Resensi Buku Muhammad Al - Fatih 1453

Desember 14, 2016 Aldi Rahman 0 Comments



Buku Muhammad Al-Fatih 1453 - Felix Y. Siauw

Rasulullah SAW bersabda:

"Sungguh, Konstatinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukkannya." (HR. Ahmad)

Butuh waktu 825 tahun untuk menaklukkan Konstatinopel. Memiliki gelar "The City with Perfect Defense."

Napoleon berkata, "Apabila dunia ini adalah sebuah negara, maka tempat yang paling layak sebagai ibukotanya adalah Konstantinopel." Dalam Islam, janji dan prediksi serta kabar gembira dari Allah dan Rasul-Nya disebut bisyarah.

Bisyarah mengenai takluknya kota Konstantinopel keluar lewat lisan Rasul yang mulia. Ini yang menjadi sumber kekuatan bagi Muhammad Al-Fatih dalam melaksanakan cita-citanya. Usia 21 tahun ia menaklukkan Konstantinopel dengan perjuangan berat.

Setelah Konstantinopel ditaklukkan. Visi berikutnya ialah menaklukkan Roma. Keinginan tersebut tidak terwujud karena Muhammad Al-Fatih menutup usianya pada 3 Mei 1481 dalam usia 49 tahun.

Tiga hari berturut-turut gereja membunyikan lonceng mendengar kematiannya.

John Freely berkata, "Sesaat sebelum wafatnya, dia sedang mempersiapkan untuk mengomando tentara yang sangat besar untuk menaklukkan Roma. Perkara bahwa dia akan berhasil menaklukkannya tidak pernah diragukan orang yang hidup pada zaman itu. Bila saja ia hidup 20 tahun lebih panjang, tentunya tidak ada lagi Eropa dengan Kristennya." Menggambarkan ketakutan Barat.

Padahal ketika ia berhasil menaklukkan Konstantinopel. Masyarakat dibebaskan dalam menganut agama. Toleransi begitu nyata.

Pendeta dan warga yang ketakutan bersembunyi di Hagia Sophia sudah putus asa. Mereka yakin hidupnya tidak akan lama lagi. Muhammad Al-Fatih turun dari kudanya, bersujud kepada Allah, mengambil segenggam pasir lalu menumpahkan ke atas surbannya sebagai bentuk syukur dan kerendahan manusia dihadapan Allah.

Tatkala ia mendekati pintu gereja, kaum Kristen yang berkumpul di dalamnya sangat ketakutan. Namun, tidak ada pilihan lain bagi mereka. Salah seorang membukakan pintu untuknya. Terlihatlah di depannya penduduk Konstantinopel memadati gereja Hagia Sophia dengan ketakutan dan teriakan histeris. Ia meminta kepada pendeta agar menenangkan penduduk. Semua diperintahkan kembali ke rumahnya masing-masing dengan jaminan darinya.

Mendengar hal ini, beberapa pendeta yang bersembunyi segera keluar dan menyatakan masuk Islam, menyaksikan toleransi Islam kepada penduduk yang telah ditaklukkan. Konstantinopel menjadi kota yang lebih baik dari sebelumnya. Menjadi kota yang makmur, dengan arsitektur berkelas pada saat itu.

Muhammad Al-Fatih tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dan shalat tahajud sejak baligh.

"Kalau seandainya ada pemimpin Muslim yang tidak pernah masbuq dalam shalatnya, dialah Sultan Muhammad Al-Fatih." Syaikh Syamsuddin - Guru Sultan Mehmed

Tidah hanya shalat tepat waktu, namun ia juga mengerjakannya secara berjama'ah.

Ketika muncul persoalan pada pasukan Islam hendak shalat jum'at pertama kalinya di Konstantinopel. "Maka siapakah yang layak menjadi imam shalat jum'at?"

Namun tidak ada yang berani menawarkan dirinya. Sultan Mehmed segera bangun dari tempat duduknya dan meminta seluruh jama'ah untuk sama-sama berdiri. Kemudian ia bertanya, "Siapa di antara kalian yang sejak remaja, sejak akil balighnya hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silahkan duduk!"

Subhanallah! Tidak ada seorangpun diantara pasukan Islam yang duduk! Sultan Mehmed tersenyum, kemudian bertanya untuk kali kedua, "Siapakah di antara kalian yang sejak akil baligh hingga hari ini, pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat rawatib sekali saja, silahkan duduk!"

Sebagian di antara pasukan Islam merasa pernah meninggalkan shalat rawatib, mereka segera duduk. Namun, sebagian besar di antara pasukan Islam saat itu masih berdiri tegak. Artinya, sejak remajanya, mereka tidak meninggalkan shalat rawatib. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai Muslim bernilai tinggi, sungguh jujur.

Sultan Mehmed pun kembali berseru sambil mengedarkan pandangannya kepada seluruh pasukannya yang masih berdiri tegak. "Siapa di antara kalian yang sejak masa akil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Bagi yang merasa pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja silahkan duduk!"

Apa yang terjadi? Pasukan Islam yang sebelumnya masih banyak berdiri tegak dengan segera mereka duduk rapih kembali. Namun, ada pemandangan menakjubkan, ternyata ada seorang yang masih tetap tegak berdiri. Dialah Sultan Mehmed II bin Murad II, sang penakluk Konstantinopel, bergelar Al-Fatih. Dialah yang pantas menjadi imam shalat jum'at pada hari itu, karena hanya ia yang tidak pernah meninggalkan shalat tahajud. Subhanallah!


"Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan." (HR. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/355)

You Might Also Like

0 Comments: