Menjadi Panitia Politika Brawijaya 2015

November 22, 2015 Aldi Rahman 0 Comments


Mengikuti kepanitiaan dalam sebuah acara sepertinya menarik. Itu yang terbayang dalam pikiranku. Ketika semester satu dan dua aku tidak mengikuti kegiatan organisasi sama sekali. Aku ingin mendapat pengalaman berorganisasi. Meski hal tersebut menyita waktu luangku untuk bersenang-senang. Bermalas-malasan, tidur-tiduran sambil membaca buku. Aku sebenarnya jadi jarang membaca buku karena mulai sibuk dengan berbagai kegiatan.

(Ini poster acaranya)

Pertama kali aku melihat poster acara Politika Brawijaya, bagus posternya. Kemudian aku melihat ada open recruitmen menjadi panitia. Aku langsung daftar dan memilih dua divisi. Satu divisi Liaison Officer (LO) dan satu lagi divisi kestari. Alasan aku memilih dua divisi itu, untuk divisi LO aku sama sekali nggak tahu itu job desknya gimana. Kalau kestari sepertinya berhubungan dengan surat-menyurat. Oh iya, sebetulnya aku mendaftar di dua acara lain, dan dua-duanya diterima divisi kestari. Saran dari aku, divisi kestari tidak menantang, untuk kamu yang suka tantangan aku tidak merekomendasikan divisi ini.

Aku menjalani screening yang dilakukan oleh wakil ketua pelaksana. Intinya jawab pertanyaan dengan jujur. Kalau tidak tahu, bilang tidak tahu. Beberapa pertanyaannya kritis, dan bahkan aku diajukan kasus-kasus yang akan terjadi di lapangan. Aku berharap besar semoga bisa lolos menjadi panitia di acara Politika Brawijaya 2015. Seminggu kemudian ada pengumuman. Dan alhamdulillah aku lolos jadi panitia divisi LO. 

Politika Brawijaya 2015 adalah kompetisi debat nasional dan juga ada seminarnya. Aku pertama kali ikut rapat besar. Dari divisi LO tidak sampai setengahnya yang datang. Minggu berikutnya malah semakin sedikit yang datang. Padahal divisi LO anggotanya paling banyak. Baru awal-awal disuruh mencari kontak presma seluruh universitas di Indonesia. Bukannya ini tugas humas? Ketua divisi LO juga menghilang. Lalu digantikan oleh mas Haniful namanya. Kesibukannya bukan main, malah sepertinya dia lebih sibuk daripada aku. Anggota divisi LO punya kesibukan masing-masing, makanya banyak yang tidak datang pas rapat. Aku mencoba berpikir positif.

Aku yang sibuk saja bisa datang, kenapa yang lain tidak? Aku tetap berpikir positif. Ketuanya yang sibuk sekali saja bisa datang, kenapa yang lain tidak? Lagi-lagi aku tetap berpikir positif. Divisi danus belum mendapat sponsor. Ketua pelaksana dan wakilnya tampak gelisah. Aku bertanya kepada kapelnya ketika h-7 acara, "apakah sudah dapat sponsor?" Jawabannya, "belum". Acara sebesar ini belum dapat sponsor. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

Hari pertama aku datang jam lima pagi di gedung rektorat. Ada briefing panitia sebelum acara dimulai. Aku menjemput langsung timku ke hotel griya UB. Tidak ada pantia yang menjemput langsung kecuali aku. Karena memang peserta harus datang sendiri ke gedung rektorat. Timku berasal dari Surabaya, yaitu Universitas Airlangga (UNAIR). Sebetulnya aku ada dua pilihan UNAIR atau UNIV 17 Agustus. Aku terserah pilih yang mana. Akhirnya aku menjadi LO tim UNAIR. Satu cewek dan dua cowok. Yang cewek sudah sangat siap, yang cowok belum. Kami kemudian berangkat menuju gedung rektorat.

Technical meeting dijelaskan peraturannya, tim-tim yang akan bertanding dan sebagainya, langsung aku skip. Kami lalu menuju ruangan yang sudah di sediakan. Di dalam ruangan itu aku menjadi moderator dan temanku divisi LO menjadi time keeper. Di dalam ruangan kelas itu, ada juri, ada timku dari UNAIR dan tim temanku dari STIKES YARSI Mataram. Aku baru tahu debat itu seperti apa ketika menyaksikannya langsung. Seru sekali, aku jadi ingin mengikuti kompetisi debat. 

Menit pertama satu ketukan, tandanya diperbolehkan interupsi atau bertanya. Menit keempat satu ketukan, tandanya interupsi sudah tidak diperbolehkan. Menit kelima dua ketukan. Lima menit dua puluh detik, ketukan berkelanjutan, ketuknya berkali-kali, tapi pelan-pelan. Interupsi waktunya hanya 15 detik. Oh iya, sebelum debat ada case building selama lima belas menit. Mosinya diberikan sebelum case building.

Setelah debat kami keluar ruangan sambil menunggu hasil dari juri. Selang beberapa menit kami masuk ke dalam ruangan. Juri kemudian menjelaskan tentang hasil debatnya dan saran-saran untuk kedua tim. Kemudian diputuskan pemenangnya tim UNAIR, yeay! Aku merasa senang sekali timku yang menang, meski aku hanya sebagai LO-nya. Debat kedua di mulai sore sehabis makan siang. Peserta makanannya nasi kotak, panitia makannya nasi bungkus yang isinya sedikit sekali. Katanya untuk menghemat dana.

Debat kedua kali ini aku menjadi time keeper. Lawannya dari Universitas Indonesia (UI). Debat berlangsung seru. Setelah debat berakhir kami keluar ruangan untuk menunggu keputusan juri. Aku mengambil hasil skor dari juri, lalu membawanya ke ketua juri. Kemudian aku masuk dan mendengar keputusan juri. Aku tidak tahu siapa yang menang. Tetapi sepertinya timku yang menang. Aku tidak menanyakannya, biarkan waktu yang menjawab.

Selesai acaranya jam delapan malam. Untuk acara hari ini, tidak terlalu molor, masih bisa dikatakan tepat sesuai rundown acara. Habis acara masih ada rapat evaluasi sampai jam sepuluh. Aku pulang jalan kaki lelah sekali. Besoknya berangkat lagi jam lima pagi. Sebelum dimulai acaranya ada briefing panitia. Debat lagi, kali ini saya menjadi moderator. Lawannya dari Universitas Padjajaran (UNPAD). Seru sekali, ini yang membuat saya tertarik untuk ikut kompetisi debat. Skip, langsung hasilnya, tim saya yang lolos, yippi..

Dari total 30 tim, hanya 12 tim yang masuk ke babak selanjutnya. 4 tim sudah dipastikan lolos. 8 tim bersaing memperebutkan kuota 4 tim untuk babak selanjutnya. Dan timku ada di 4 tim yang teratas keren sekali. Tapi tidak enaknya harus menunggu tim yang lain bertanding. Aku benci menunggu. 8 besar sudah diumumkan. Timku melawan tim UB. Pikiranku sudah tidak enak. UB-kan tuan rumah, pasti dia yang menang. Tapi aku mau timku yang menang.

Debat kali ini aku menjadi moderator lagi. Meski pun lelah karena belum makan dari pagi, aku tetap berpura-pura terlihat semangat. Ada perbedaan pada debat kali ini. Di dalam ruangan ada penonton, wow. Debat berlangsung seru sekali. Tinggal satu langkah lagi menuju semi final. Tetapi ketika pengumuman, jleb. Tim UB yang lolos. Aku sedih, kecewa. Timku sepertinya juga sedih meski mereka tidak memperlihatkannya. Timku pun ingin pulang, tetapi aku tidak bisa bawa motor. Aku minta divisi transko, katanya mereka nggak menyediakan layanan antar jemput peserta. Aku sedih sekali, ada perasaan nggak enak. Sudah kalah, tidak diantar pulang.

Senin, hari terakhir. Semoga kamu belum bosan baca sampai sini, boleh istirahat dulu kok. Hari ini ada seminar nasional dan final debat. Semi finalnya, UI ketemu UNPAD, sama UI ketemu UB. Dan hasilnya, UB lawan UNPAD. UI tidak ada yang lolos, kasihan sekali. UNPAD dan UI yang timnya paling banyak ikut kompetisi debat kali ini. Skip langsung pemenangnya adalah... Tim UB. Selamat UB dapat hadiah juara pertama dan selamat juga untuk UNPAD juara kedua, selamat untuk UI juara ketiga.

Seminar nasionalnya gagal karena walikota Bogor berhalangan hadir. Diganti dengan talkshow yang menurut saya tidak menarik. Kemudian ada penampilan Indra Idol yang kacau kalau saya bilang. Dia nyalahin soundsystemnya, tapi menurutku dia juga nggak terlalu bagus nyanyinya kok. Aku juga nggak tahu dia siapa, kamu tahu Indra Idol nggak? Kalau nggak tahu, kita sama.

Setelah talkshow ada bis wisata Malang. Bisnya tingkat dua dengan atap terbuka. Aku naik ke atas, menikmati pemandangan. Tapi karena diatas mulai penuh, aku pindah ke bawah. Kami jalan-jalan keliling Malang. Lewat jalan Ijen, melewati stasiun, kemudian sampai di toko oleh-oleh yang mirip seperti toko swalayan. Kemudian terakhir tujuan kami menuju stasiun untuk mengantar peserta.

Bisnya persis kayak gini

Pengalaman menjadi panitia merupakan pengalaman yang menarik. Karena aku bisa belajar dan mengerti bagaimana berjalannya suatu organisasi. Bagaimana bekerja sama dengan orang lain. Bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik. Intinya pengalaman merupakan sesuatu yang berharga dan aku bisa belajar darinya.

You Might Also Like

0 Comments: