Pergi ke Sendang Biru

Juni 23, 2015 Aldi Rahman 0 Comments


Akhirnya saya bisa jalan-jalan. Sudah lama saya tidak jalan-jalan. Sebenarnya ini tugas mata kuliah Sistem Sosial Budaya, tetapi saya anggap ini sebagai rekreasi. Tugasnya tentang mewawancarai nelayan, atau penduduk sekitar. Entahlah, saya juga bingung masalah tugas. Terlalu banyak tugas. Pagi ini jam tujuh teman saya bernama Afib datang ke kosan. Dia menjemput saya menuju ke kosan Gary untuk berkumpul.

Saya, Afib, Amin, Bison, Gary. Kami berlima siap mengerjakan tugas. Ternyata saya dan Afib harus balik lagi ke kosan masing-masing karena lupa bawa jas almamater. Pertama ke kosan Afib, kemudian ke kosan saya. Saya mengambil jaket dan jas almamater. Setelah semua siap. Kami langsung pergi menuju Sendang Biru.

Perjalanan yang cukup lama tampaknya. Tetapi pantat saya sudah panas karena terlalu lama duduk. Kami mengobrol tentang impian Afib yang ingin mempunyai personal branding. Ketika sedang asyik mengobrol, ternyata kami ketinggalan jejak teman yang ada di depan. Tapi akhirnya kami dapat menyusul mereka.

Dari yang tadinya kota, sekarang mulai banyak pepohonan. Mulai ada tanjakan. Kuping saya "plong". Tanda perpindahan dari dataran rendah menuju dataran tinggi. Adem dan sejuk sekali. Pohon-pohon terlihat banyak. Tetapi mobil, motor dan truk tetap mengeluarkan polusi. Makin lama tanjakan makin curam. Jalanan makin berkelok-kelok. Tiba-tiba hujan muncul.

Kami lalu beristirahat sejenak. Akhirnya. Saya pegel juga kelamaan duduk. Saya maunya teh gula batu, sedangkan Amin, Bison dan Afib memesan kopi. Gary masih sibuk memakai jas hujan. Bukannya istirahat di tempat berteduh. Tapi dia pada akhirnya datang sendiri dan tidak memesan apa-apa. Tehnya hangat. Tempatnya cocok untuk melamun.

Karena merasa sudah terlalu berlama-lama. Kami langsung pergi ke tempat tujuan. Tidak menunda-nunda lagi. Meskipun hujan. Afib memakai jas hujan. Saya dibelakang memakainya. Saya jadi ingat ketika dianterkan oleh Ayah saya naik motor waktu SD. Ketika hujan, Ayah saya memakai jas hujan. Saya hanya bisa melihat kebawah. Melihat jalan yang terus bergerak.

Ketika sampai digerbang, kami harus membayar. Bayarnya sepuluh ribu. Ketika kami masuk banyak sekali kapal-kapal yang ada dilaut. Pemandangannya indah dan udaranya sejuk. Setelah Afib, Gary dan Amin memarkirkan motor. Kami jalan-jalan sebentar, sambil melihat-lihat. Kemudian kami lapar. Lalu mencari tempat makan.


banyak kapal, Afib

Biasanya ditempat wisata makanannya mahal. Memang. Semuanya lagi pada makan, cuma saya yang bengong. Yang lain pesannya sayur lodeh sama telor. Saya maunya mie. Soalnya saya udah lupa rasa mie instan. Ketika kami sudah selesai makan. Langsung kami pergi meninggalkan tempat tersebut. Berjalan kaki entah kemana. Ke pasar mungkin?

Berjalan kaki menyenangkan sekali. Sambil melihat pemandangan berupa pohon-pohon. Lalu ada sebuah palang. Dan ada seorang bapak-bapak. Bapaknya mengenakan seragam kedinasan. Ternyata bapak itu dari Dinas Perikanan. Gary langsung mengambil videonya. Terlihat bapaknya agak kesal, karena Gary tidak meminta izin terlebih dahulu. Jika kita ingin dipercaya oleh orangtua, jangan merekam suaranya, kata pak Mario. 

Amin mewawancarai bapak tersebut. Sementara Gary merekam melalui hpnya. Bison dan Afib duduk. Saya juga duduk sambil makan kerupuk, tetapi tetap mendengarkan penjelasan dari bapak tersebut. Setelah berbincang agak lama, kami memutuskan untuk pergi berpetualang lagi. Kami menyalami bapak tersebut. Kemudian pergi menuju lokasi.

Di setiap jalan, ada tempat bagus, foto-foto. Lagi jalan, foto-foto. Jalan sedikit foto lagi. Untuk pertama kalinya saya suka foto-foto. Entahlah. Kami berjalan-jalan menyusuri berbagai tempat. Ada laut, foto lagi. Ada tempat bagus, foto. Pokoknya foto lebih penting daripada tugas. 


Gary, Amin, Afib, Bison

Setelah berfoto-foto. Kami masih terus berjalan. Karena kami belum puas untuk berfoto-foto. Bertemu dengan tempat bagus, ya foto lagi. Ternyata foto-foto itu menyenangkan. Karena hari semakin panas. Sebaiknya kami pulang. Tugas juga sudah selesai. Akhirnya kami kembali ke parkiran.











Kami melewati palang dan si Amin mengucapkan terima kasih kepada bapaknya dari jarak jauh. Melewati jalan yang sama untuk pulang. Kembali ke parkiran dan kemudian naik motor. Ketika dalam perjalanan pulang. Saya dapat menikmati sejuknya udara. Rasanya adem, sejuk, segar, tenang, damai, dan menyenangkan. Lagi-lagi kuping saya "plung" tanda perpindahan dari dataran rendah menuju dataran tinggi.

Kali ini perjalanan pulang tampaknya lebih melelahkan karena tidak berhenti. Saya sudah pegel karena terlalu lama duduk. Pantat saya panas, nanti bisa tepos. Lagi-lagi jalanan berkelok-kelok. Sekian lama perjalanan, akhirnya kami berhenti. Isi bensin. Dan dompet saya terluka. Tetapi saya senang karena berhenti.

Setelah berhenti,  kami melanjutkan lagi perjalanan. Lama sekali, saya tampak mulai mengantuk. Badan juga sudah pegel-pegel. Afib kehilangan jejak Amin. Dan ternyata Afib tidak hafal jalan. Kemudian Afib membuka Google Maps. Kami pergi mengikuti jalan yang ada di Google Maps. Tetapi tampaknya Afib kebingungan. Jadi kami hanya mengikuti arus.

Dalam ketegangan tersesat. Tiba-tiba saya melihat secercah cahaya. Kami melihat plang bertuliskan Jl. Ijen. Akhirnya... Kami dapat pulang ke kosan masing-masing dengan selamat. Ketika sampai dikosan, saya melihat jam dinding menunjukkan pukul tiga sore. Saya masih lelah. Jadi saya beristirahat dan bermalas-malasan terlebih dahulu. 



You Might Also Like

0 Comments: