Counter Strike, PUBG dan Antusiasme Generasi Langgas pada Esports


Image from Instagram @bigetronesports

Counter Strike

Jujur saja, saya tidak suka game seperti mobile legends dan game yang mirip seperti itu. Saya lebih suka tembak-tembakkan macam Counterstrike (CS). Dulu waktu SD dan SMP, hampir setiap hari saya main di warnet. Di CS kita bisa bertarung dengan orang yang ada di satu warnet. Nicknamenya saya namakan Bantai. Siapa yang nggak kenal di warnet itu. Bahkan orang yang duduk agak jauh dari saya bilang, siapa sih bantai? Saya cuma senyum-senyum jahat. Dia nggak tahu ada saya di dekatnya.

CS memang betul-betul realitis, gambarnya seperti kita sungguh bertarung. Makanya kalau main game itu saya bersungguh-sungguh. Soalnya saya tak suka kalah. Senjata kesukaan saya itu smg nomor 3. Lupa apa namanya, kalau di PUBG bisa disebut UMP. Senjata yang mirip seperti itu.

Selain CS, ada juga game yang tipenya sama, namanya Point Blank (PB). Sebenarnya saya lebih suka CS. Entah kenapa lebih banyak orang yang memainkan PB ini, dan PB masuk ke dalam salah satu cabang esport. Sebab katanya grafisnya lebih bagus daripada CS, yang saya maksud CS 1.6 no steam, bukan CS Global Offensive (GO) yang grafisnya mirip PB. Tapi CS akan tetap ada dalam ingatan saya, sebab game inilah yang membuat saya belajar strategi dan bagaimana menghabisi musuh. Karena memang sebenarnya dalam bermain game ini, kita pun dituntut harus berpikir untuk meraih sebuah kemenangan.

Apa itu esports? Esports merupakan olahraga yang dilakukan dengan bermain game yang sifatnya kompetitif skala besar. Jadi esports ini membutuhkan ketekunan, konsistensi dan effort lebih dari bermain game. Untuk bermain game tentunya seseorang membutuhkan kemampuan, kecerdasan dan strategi. Membutuhkan latihan dan target tertentu dalam meningkatkan kemampuan bermain game.



PUBG

Kalau berbicara tentang game yang terkenal saat ini, mungkin kita sudah tak asing lagi dengan beberapa game seperti PUBG, Clash of Clans, Clash Royale dan lainnya. Sebenarnya game dipersepsikan negatif sebagai salah satu penyebab yang menjadikan nilai anak menurun.

Kini hal itu tak lagi relevan. Dengan game dapat menghasilkan uang melalui perlombaan, meningkatkan produktivitas, mengurangi stres, dan bahkan bisa menjadi atlit esport. Esport mempunyai tim khusus masing-masing game. Selain mendapat kesenangan, anggota esport mendapatkan gaji yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, dan bahkan pendapatannya bisa melebihi pegawai kantoran.

Tetapi jalan untuk masuk esport tidak mudah. Sama seperti menjadi selebgram dan youtuber yang dikenal luas. Mereka akan melalui proses panjang dan melelahkan. Mereka harus berpikir untuk meningkatkan skill dan mengembangkan diri. Sementara kita hanya melihat apa yang diperlihatkan. Pencapaian dan hasil mereka dari memenangkan sejumlah lomba.

Image from Instagram @bagas_zuxxy

Meskipun begitu, keinginan masuk tim esport ataupun menjadi pro player tetap terus bertambah. Antusias masyarakat mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa semua ingin bermain dan dikenal. Sebab ingin membuktikan dirinya hebat, dan hal itu jelas sangat bisa dilakukan dalam game. Kita membutuhkan aktualisasi diri sebagaimana yang ada pada teori Maslow.

Menurut Maslow hampir setiap manusia memiliki kebutuhan untuk mendapatkan perhatian dan dihargai. Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi penghargaan secara internal dan eksternal.

Internal yang mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi, prestasi, dan kebebasan. Sementara eksternal menyangkut penghargaan dari orang lain, pengakuan, prestise, apresiasi, dan nama baik. Orang yang memiliki harga diri yang cukup, ia cenderung percaya diri. Biasanya orang seperti itu lebih produktif. Hal inilah yang berkaitan dengan esport. Dimana atlit esport, professional player, ataupun kita yang hanya senang bermain, akan produktif jika kita terus memenangkan game, dan mencukupi kebutuhan yang dikatakan Maslow.

Ada rasa bangga ketika achievement kita melebihi kebanyakan orang. Rasa senang ketika hal tersebut diketahui oleh orang lain. Setiap orang memiliki motivasi bermain game. Ada yang menjadikan game kesenangan melepas lelah. Ada yang menjadikannya sebagai hobi dan waktu untuk bersenang-senang. Ada yang ingin menjadi terkenal, ingin mendapatkan penghasilan. Dan juga ingin mendapat teman baru.

Saya pertama kali bermain PUBG sekitar satu tahun lalu. Pertama main saya kebingungan, mungkin gerakannya dianggap bot. Tapi semakin lama, semakin menegangkan. Ya, kalau telah paham cara bermainnya, maka main game akan lebih asyik lagi. PUBG menengangkan sebab dari 100 orang, hanya ada satu tim ataupun satu orang yang akan memenangkan pertandingan dan mendapatkan Chicken Dinner. Di PUBG pun ada senjata kesukaan saya. Yang saya sukai dari PUBG ialah grafis game dan cara bermain yang menyenangkan.

Waktu pertama kali saya main PUBG itu pada season 5. Dan peringkatnya waktu itu menembus Ace untuk kategori squad. Di rank itu musuhnya gila-gila. Untuk ranknya paling bawah ada bronze 5-1, silver 5-1, Gold 5-1, Platinum 5-1, Diamond 5-1, Crown 5-1, Ace, Conqueror.



Saat ini PUBG telah memasuki season 10. Untuk naik rank pun akan semakin terjal, sebab banyak pemain yang telah belajar dari pengalamannya. Pada rank bronze ke gold masih mudah mengalahkan musuh. Tetapi masuk ke rank platinum, musuh akan semakin sulit. Apalagi jika kamu sudah berada di rank diamond, rating akan naik turun sebab kesulitan mencapai sepuluh besar. Di crown pun sama, kalau tak bisa mempertahankan permainan, bisa-bisa kamu turun ke platinum. Untuk di Ace lebih sulit turun ke crown, sebab Ace memperhatikan rating. Selama rating permainan kita bagus, kita tidak akan turun ke crown. Untuk conqueror saya belum pernah, butuh rating dan permainan yang sangat konsisten untuk masuk ke rank ini. Mungkin ini ranknya para pro player yang membunuh musuh paling tidak diatas 10 kill di setiap gamenya.

Untuk naik rank dalam PUBG yang bisa saya sarankan adalah jangan terlalu bernafsu untuk push rank. Sebab hal itu bisa berdampak pada gameplay kita. Kemudian cari squad yang bisa diajak kerjasama. Kadang kalau kita knock atau butuh bantuan, kerjasama ini sangat penting. Apalagi kalau kita di rush satu squad. Jangan panik, dan jangan open tubuh kita. Sabar merupakan kunci untuk menghancurkan musuh.

Untuk bermain PUBG membutuhkan kecerdasan dan strategi. Kita tak bisa bermain asal dalam game ini. PUBG itu bisa diibaratkan bermain catur. Salah langkah, belum paham zona bermain, salah perhentian tempat, hal ini bisa menyebabkan kekalahan kita. Jadi pengalaman bermain PUBG sangat penting. Kita akan belajar dari salah dan kalahnya kita di game ini.



Generasi Langgas

Saat ini kita berada pada generasi langgas. Kata “Langgas” diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang artinya “bebas”. Generasi yang begitu bebas karena memang begitu besarnya peluang, dan berubahnya sifat orangtua yang lebih support dibanding orangtua generasi sebelumnya.

Kita berada pada era yang mengejar kecepatan, bukan perfection (kesempurnaan). Karena cepat lebih diutamakan, sebab yang pertama kali akan cenderung untuk lebih diperhatikan. Sementara untuk kesempurnaan bisa menyusul. Generasi langgas ingin efficient, dan tidak suka membuang-buang waktu. Menjadi generasi yang terbilang cepat namun bukan instan.

Generasi yang menyukai pengembangan diri. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang seringkali berada dalam comfort zone, mereka menolak hal itu. Bahkan begitu pekerjaan mulai membosankan, mereka akan langsung untuk mencari sesuatu yang baru. Bukan karena mereka tak loyal, tapi mereka akan loyal pada hal yang perlu untuk disetiakan. Mereka akan loyal saat menemukan sesuatu yang benar-benar mereka cari.

Ketika kita telah paham apa yang mesti dilakukan dalam sebuah game, maka kita akan menjadi semakin ahli. Dan game memang bikin ketagihan. Semua orang yang senang bermain game, kini mulai tertarik untuk menjadi atlit esport. Mungkin sama seperti selebgram dan youtuber, untuk masuk esport tidak mudah. Perlu adanya hasil dan catatan bermain yang diatas rata-rata.

Orang tertarik pada esport sebab mereka bermain sambil menghasilkan uang. Sebenarnya tidak harus masuk tim esports, tetapi memang kelihatannya esport itu lebih keren dan menjanjikan. Jadi bermain menyenangkan, dan memiliki pemasukan.

Game tak selamanya buruk. Jika bermain game tersebut tak berlebihan dan tentunya tahu kapan waktunya berhenti. Bermain game bisa menjadi positif ketika dilakukan dengan sportif dan kerjasama. Bahkan game sebenarnya dapat meningkatkan fokus, keahlian dan kegiatan berpikir.

Kecanduan game muncul sebab game menjadikan kita tak bisa berhenti main, memang ini hal yang tidak baik. Karena berlebihan bermain membuat kita lelah, gelisah, sebab tidak bermain game, dan bahkan bisa berbohong terkait lamanya waktu bermain. Untuk kita yang kecanduan game, sebaiknya kita berusaha untuk mengurangi waktu bermain game.


Daftar Pustaka
Rivai, Veithzal dan Mulyadi, Deddi. 2013. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: Rajawali Press.
Sebastian, Yorris, Dilla Amran dan Youthlab. 2016. Generasi Langgas. Jakarta: Gagas Media.

Pengalaman Menulis di Qureta


Qureta sebagai tempat untuk kita menyebarkan tulisan yang berisi atau bersuara. Tulisan yang dibuat dengan tujuan untuk mempengaruhi pembaca agar sepakat, atau malah memunculkan pertentangan pendapat. Tulisan yang ada di Qureta ini kebanyakan bersifat reflektif, yang mirip seperti esai. Tulisan sehari-hari bahkan bisa dikemas dengan bentuk tulisan yang kontemplatif, yang membuat kita berpikir.

Saya suka menulis di Qureta sebab tampilan websitenya yang simple. Banyak penulis "berani" menulis disana. Untuk menulis disana, kita memerlukan tulisan paling sedikit 700 kata. Kemudian tulisan yang ingin kita kirim perlu untuk dicek lagi (karena Qureta tak suka menghapus tulisan), baru kita kirimkan ke editornya. Redaksi Qureta akan membaca dan menyunting sedikit saja. Mungkin judul dan sedikit daripada isi tulisan kita. Begitulah, dan tulisan kita pun akan terbit. Kita bisa membagikannya ke sosial media yang dimiliki.

Sedikit mengenai Qureta. Qureta didirikan oleh Luthfi Assyaukanie. Media ini sebenarnya pernah diblokir oleh Kominfo tahun 2017. Mungkin penulis bersama tulisan yang ada di Qureta itu banyak yang radikal, sehingga akhirnya tak bisa diakses, wow (ternyata Qureta pernah menjadi situs terlarang). Tapi penyebab ialah adanya tulisan berbau sara. Padahal hanya gambar dan judulnya saja yang menjurus kesana, lain halnya dengan isi tulisan yang berkualitas. Kominfo pun akhirnya membukakan pintu terhadap website Qureta. Pembaca pun bernapas lega.

Untuk positifnya, Qureta pernah masuk dalam nominasi best online activism sebagai salah satu web paling dinamis menurut Deutsche Welle, lembaga penyiaran terbesar yang ada di Jerman.

Penulis Qureta berani menyurakan pendapatnya, yang seringkali berbeda dari kebanyakan orang. Inilah yang saya sukai. Penulis yang terkenal seperti Anggun C. Sasmi, Ayu Utami, Okky Madasari, Goenawan Mohammad, Abdillah Toha, Tsamara Amany dan masih banyak penulis lain yang tak kalah radikal.

Tulisan saya juga pernah ditolak oleh redaksi Qureta. Biasanya karena tata bahasanya dan penulisan saya yang masih berantakan. Mungkin juga isi yang tak sesuai dengan idealisme media ini. Sebab saya kadang kalau menulis terlalu bersemangat, sehingga mungkin tulisan saya jadi tak diloloskan, entahlah. Kalau menulis saya terlalu fokus, hingga saya lupa kalau sedang menulis di kamar.

Tulisan saya masuk kolom inspiratif, mantap

Kalau yang ini masuk di halaman utama, luar biasa. Padahal sepertinya tulisan saya masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki.

Masuk kolom aktual lagi, mantap

Dan yang terakhir juga masuk aktual lagi, lumayan.

Untuk 50 penulis favorit dan produktif akan mendapat hadiah kaos qureta. Untuk daftar penulisnya bisa dilihat di Qureta. Qureta mengadakan lomba esai, workshop pelatihan menulis, serta informasi lainnya. Qureta pun menghadirkan kuliah yang akan menambah wawasan kita.
Oh iya, untuk membuat akun di Qureta mudah sekali. Kita bisa membuatnya menggunakan Facebook ataupun email. Disana kita bisa menulis hal-hal yang mudah dipahami, memiliki nilai dan tentunya menjadikan pembaca semakin kritis. Selamat menulis di Qureta!

Lama Tak Menggunakan Jam Tangan, Ternyata Ada Yang Canggih




Semenjak jam tangan saya rusak, saya sudah lama tidak menggunakan jam tangan. Sebenarnya ingin membelinya, tapi karena masih banyak hal yang perlu diurus, menjadikan keinginan memiliki jam tangan tertunda. Apakah jam tangan bisa meningkatkan produktivitas?

Saya biasanya menggunakan jam tangan setiap hari. Rasanya kalau tidak menggunakannya ada yang kurang. Karena saya orangnya suka tepat waktu. Jadi jam tangan menurut saya penting sekali. Sekarang kalau ingin melihat waktu saya harus mengecek hp berkali-kali, agak merepotkan.

Jam tangan saat ini telah bertranformasi dengan adanya teknologi. Kini jam tangan tidak hanya sebagai penunjuk waktu, tapi juga bisa untuk berbagai hal, seperti menjawab telpon, mengatur jadwal dan mengecek detak jantung. Jadi jam tangan sekarang begitu canggih, memudahkan sekaligus meningkatkan kinerja kita. Saya akan menjelaskan keunggulan jam tangan FossilGen 5 Smart Watch yang berteknologi mantap ini.

Kita tinggal mengatakan kepada Google ingin tahu apa, langsung dijawab. Kita bisa menyuruh Google untuk melakukan apa, juga akan langsung dilakukan. Kita bisa memesen order Grab, mengingatkan jadwal yang telah dibuat, dan bisa untuk translate bahasa. Selain itu juga bisa untuk mengetahui informasi cuaca. Desainnya yang keren, dan memiliki banyak fungsi, mantaps.


Memiliki penyimpanan yang besar. Penyimpanan ini bisa digunakan untuk mendownload aplikasi dan lagu. Penyimpanannya sebesar 8 GB. Cukup besar untuk sebuah jam tangan.

Jam tangan ini selain digunakan untuk sendiri, bisa juga sebagai hadiah. Siapa yang tidak ingin diberikan jam tangan canggih ini. Mungkin akan diterima dengan senang hati, hehe..

Adanya Google Assistant yang tinggal diberikan perintah, maka bisa langsung dilakukan. Seperti menyetel musik. Kemudian menyetel musik ini juga dengan suara yang tidak kalah dari smartphone.

Jam tangan ini juga memiliki daya tahan baterai yang cukup lama. Ada empat mode untuk menghemat energi, dari daily mode hingga ke time only. Pengisian baterainya pun lebih cepat dari sebelumnya.

Dan yang terpenting dari sebuah jam tangan adalah desain. Desain yang elegan, menjadikan kita tampil percaya diri. Desain jam tangan Fossil Gen 5 Smart Watch ini bisa membuat kita betah menatapnya terus-menerus.

Teknologi water resistant, bisa bertahan di air dengan kedalaman 30 meter. Jadi kita tidak perlu melepas jam tangan saat ingin berenang. Dan jam tangan pintar ini telah mendapatkan sertifikat dari Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo). Jam tangan yang telah mendapatkan sertifikat tentu tak perlu ragu lagi akan kualitasnya.



Heart Race Tracking yaitu untuk mengecek detak jantung. Ketika ingin lari-lari pagi atau sedang olahraga, kita bisa melihat detak jantung kita. Fungsi kesehatan pada jam tangan ini penting. Apakah detak jantung kita normal? Karena jantung bisa memberikan informasi kesehatan kita.



Dengan seluruh teknologi itu, saya cukup terkejut dengan fitur-fitur yang disediakan. Yang akan memudahkan saya mungkin fitur seperti Google Assistant. Jadi ketika saya ingin mencari informasi, atau translate Bahasa Inggris, saya tinggal sampaikan saja.

Sebenarnya saya juga penasaran dengan pengecek detak jantung. Saya paling penasaran dengan fitur ini sebab saya ingin tahu berapa detak jantung saya. Karena saya adalah orang malas untuk bergerak.



Dari yang saya lihat, ternyata jam tangan yang kecil itu memiliki banyak fungsi. Saya pun suka dengan tampilan jam tangan ini. Tidak terlalu banyak macam-macamnya, simple dan elegan. Selain itu yang paling penting juga ialah ketahanan baterai. Karena ini paling penting. Kadang handphone saja suka lupa charge, apalagi jam tangan yang ada baterainya. Begitulah ulasan singkat mengenai jam tangan fossil yang memang pantas untuk masuk dalam daftar wishlist kita.

Sumber gambar: Instagram @urbaniconstore